POSTED ON 13 Jan 2016

58 0

7 Pahlawan Wanita di Indonesia


Hari Pahlawan yang jatuh di tanggal 10 November setiap tahunnya selayaknya diperingati sama kita yang masih muda dan bersemangat untuk memajukan bangsa ini. Salah satu cara memperingatinya adalah menghormati jasa-jasa pahlawan yang dulu pernah membantu memerdekakan bangsa ini dari jajahan Belanda. Berapa banyak sih pahlawan revolusi yang kamu kenal, movers? Nah, di hari pahlawan kali ini, gimana kalau kita bahas tentang pahlawan wanita di Indonesia pada zaman penjajahan dulu, siapa saja mereka?

 

1. Raden Ajeng Kartini

Pahlawan asal Jepara ini terkenal karena buku yang dia buat berjudul Door Duistermis tox Licht atau Habis Gelap Terbitlah Terang. Isi buku sendiri adalah kumpulan surat-surat yang ditulis Kartini untuk para sahabatnya di Belanda. Surat yang ditulis Kartini berisi keinginannya untuk ngehapusin ketertindasan dan juga diskriminasi terhadap wanita. Upayanya berhasil dan tersebar ke berbagai wilayah di Indonesia. 

 

2. Cut Nyak Dhien 

Pahlawan asal Lampadang, Aceh ini lahir di tahun 1848, dan pernah nikah dua kali sama pahlawan kemerdekaan lainnya, Teuku Ibrahim Lamnga, dan Teuku Umar. Semasa hidupnya, Cut Nyak Dhien ikut berperang menggunakan senjata tradisional Aceh yang namanya Rencong saat terjadi Perang Aceh tahun 1873.

 

3. Cut Nyak Meutia

Satu lagi pahlawan wanita dari Aceh adalah Cut Nya Meutia yang lahir di Perlak, Aceh, tahun 1870. Cut Nyak Meutia juga meninggal sebagai pahlawan setelah ditembak oleh penjajah di Alue Kurieng, Aceh pada tahun 1910.

 

4. Raden Dewi Sartika

Bukan karena kemampuan berperangnya, namun Dewi Sartika mirip seperti R.A. Kartini yang diakui sebagai perintis pendidikan untuk perempuan. Lahir dari keluarga bangsawan, Dewi Sartika bersekolah di sekolah Belanda, dan seumur hidupnya dapat pendidikan enggak cuman dari kebudayaan barat saja, tapi juga pendidikan mengenai ke-Sunda-an dari pamannya yang seorang patih di Cicalengka.

 

5. Siti Aisyah We Tenriolle

Pahlawan wanita dari Bugis, Sulawesi Selatan ini adalah tokoh emansipasi wanita di zaman perjuangan kemerdekaan. Selain hebat di bidang pemerintahan, We Tenriolle juga terkenal di bidang sastra. Epos La Galigo yang berbahasa Bugis kuno berhasil dia ubah jadi Bugis umum, dan karenanya dia menjadi sangat terkenal di bidang sastra. Di tahun 1908, We Tenriolle membuat sekolah di Tanette.

 

6. Martha Christina Tiahahu

Pahlawan ini lahir di Pulau Nusalaut, Maluku di tahun 1800 dan selalu ambil bagian saat peperangan baik di Pulau Nusalaut dan juga Pulau Saparua. Martha Tiahahu jadi pemimpin dan penyemangat untuk para wanita yang ikut berperang. Sayang, umurnya enggak panjang karena menjelang ulang tahun ke 18 nya, Martha Christina Tiahahu meninggal di Kapal Perang Eversten, tepatnya di Laut Banda. Sebagai penghormatan militer, jasadnya dilemparkan ke laut.

 

7. Nyi Ageng Serang

Nyi Ageng Serang adalah pahlawan yang lahir sekitar tahun 1752 di Serang atau perbatasan Grobogan-Sragen. Nyi Ageng Serang ikut berperang di Perang Diponegoro pas umurnya udah 73 tahun dan mimpin pasukan dari atas tandu. Selama tiga tahun Nyi Ageng Serang ngebantuin Pangeran Diponegoro dan akhirnya pensiun. Nyi Ageng Serang meninggal di tahun 1828.


Tags :

Share on :